Latte factor : Penyebab ‘Bokek’ Kaum Milenial

14 July 2020

  • Share

Kawan PRIMA, apakah kamu sering merasa uang yang habis tanpa tau larinya kemana? Apalagi saat masuk pertengahan bulan, saldo di rekening sudah berkurang lebih dari setengah. Padahal barang idaman tak terbeli. Hmm, kalau kamu sering merasakan hal ini, sepertinya kamu harus waspada dengan yang namanya latte factor!

Apa itu Latte factor?

Hmm, latte factor? Apakah ini menu kopi kekinian seperti dalgona coffee? Tentu tidak! Latte factor merupakan istilah untuk berbagai pengeluaran kecil yang kurang penting, tetapi rutin dilakukan, seperti membeli secangkir kopi di pagi hari, air mineral kemasan, belanja cemilan, dsb. Sebetulnya, pengeluaran kecil sehari-hari ini dapat kamu siasati. Namun, karena sudah jadi kebiasaan, jadi cukup sulit dihilangkan.

 

Kenapa filosofinya latte? Karena latte atau kopi susu dianggap sudah jadi kebiasaan harian yang dikonsumsi oleh banyak orang, terutama kaum pekerja. Kopi susu yang kamu beli itu memang harganya murah, anggap saja Rp 20 Ribu per gelas. Tapi, jika setiap hari dalam seminggu kamu mengonsumsi latte, maka uangmu sudah terkuras Rp 140 Ribu. Dalam setahun, kamu menghabiskan uang sekitar Rp 7,3 Juta. Hmmm, ini baru kopi susu lho, belum kebutuhan tersier lainnya. Lumayan ya ternyata? Padahal kalau dalam waktu 5-10 tahun, jika dana tersebut diinvestasikan atau tabung, mungkin aja kamu bisa DP rumah, hehehe…

 

Fakta lainnya, Latte factor ini banyak menjangkiti kaum milenial. Kenapa begitu? Ya, Sebab generasi milenial merupakan generasi yang sudah terbiasa dengan kecanggihan teknologi, ditambah semakin mudahnya berbagai akses kebutuhan hidup melalui gadget. Kebiasaan inilah yang akhirnya menjadikan generasi milenial lebih gampang mengeluarkan uang bahkan hanya demi eksistensi di media sosial, ikut-ikutan tren atau memuaskan nafsu belanja yang disesali kemudian hari.

Cara Mengatasi Latte factor

Terus cara untuk mengatasi Latte factor gimana? Hmmm, kurangi aja dulu dengan cara menyisihkan pendapatan per bulan. Cara ini dijamin akan bikin kamu lebih sadar saat mau melakukan pengeluaran. Selain itu, hal ini bisa jadi poin plus juga karena hitung-hitung kamu sekalian menabung untuk investasi di masa depan. Siapa tau suatu hari kamu akan butuh uangnya untuk kebutuhan yang urgent, kan?

 

Cara kedua adalah dengan bertanya kepada diri sendiri setiap kali kamu akan membeli sebuah produk. Apakah kamu benar-benar butuh benda tersebut, atau kamu hanya ingin memuaskan diri semata? Hmm, Treating yourself itu memang perlu, tapi treat yourself yang benar adalah dengan memperlakukan diri sewajarnya dan tidak merusak keuangan bulananmu.

 

Terakhir adalah dengan mengubah kebiasaan. Memang awalnya pasti susah, tapi yang susah itu bukan berarti nggak bisa kan? Hehehe. Intinya yang penting kamu mulai aja dulu dari yang paling simpel seperti mengubah kebiasaan beli kopi di kafe atau air mineral kemasan dengan menyiapkan minumanmu sendiri. Kalau sudah terbiasa, baru deh naik ‘level’ dengan menghilangkan latte factor lainnya yang ada pada dirimu. Gampang kan?

 

 

Nah, kita sudah bahas soal latte factor hingga cara mengatasinya. Semoga artikel ini dapat membantu mengenali dan memperbaiki kondisi finansialmu. Daripada jajan yang nggak perlu, Yuk kita investasi!

 

 

Artikel Terkait:

Ke Mana Sih Mengalirnya Pengeluaran Milenial?

Belajar Mengatur Keuangan Ala Milenial Cerdas

Pentingnya Perencanaan Keuangan

Tips Mengatur Keuangan Di Tengah Pandemi Covid-19

Investasi Yang Cocok Bagi Kaum Milenial

7 Investasi Yang Cocok Bagi Milenial

 

 

Referensi:

ekonomi.bisnis.com

koinworks.com

cermati.com

lifepal.co.id

berita lainnya

Sama halnya dengan detoks kesehatan dimana kamu hanya akan konsumsi makanan tertentu untuk membersihkan racun pada tubuh, detoks keuangan juga berguna bagi kamu yang ingin menghilangkan racun pada finansialmu.... Selengkapnya >
Mengambil cuti untuk sekedar melakukan me time maupun aktivitas bersama keluarga tetaplah penting dilakukan saat pandemi lho….... Selengkapnya >
Stres aja sudah tidak baik untuk kesehatan mental, apalagi kalau terjadi secara berkepanjangan? Tentu, stres yang berkepanjangan dapat mengganggu kesehatan fisik serta melemahkan daya tahan tubuh... Selengkapnya >