Ramadan di tengah Pandemi COVID-19

23 April 2020

  • Share

Pandemi COVID-19 tak boleh menyurutkan niat dan semangat untuk menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan. Di sisi lain, perlu kita ingat bersama bahwa puasa tahun ini tak akan sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Memasuki bulan Ramadan, World Health Organization (WHO) mengeluarkan anjuran berpuasa saat pandemi COVID-19. WHO menyarankan bagi orang yang sehat diperbolehkan berpuasa, sedangkan pasien COVID-19 sebaiknya mempertimbangkan untuk tidak berpuasa atau sesuai anjuran dari dokter. Tak hanya WHO, Kementerian Agama pun menerbitkan surat edaran mengenai panduan Ibadah Ramadan dan Idul Fitri 1 Syawal 1441 Hijriah di tengah Pandemi Covid-19. Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga menegaskan bahwa bulan Ramadan harus tetap dijadikan ladang amal untuk beribadah. Namun karena ada kondisi khusus, maka tata cara beribadah akan disesuaikan dengan protokol kesehatan terkait COVID-19.

Beberapa hal yang perlu diingat saat menjalankan ibadah di bulan Ramadan:

1. Tidak Berkumpul

Surat edaran dari Kementerian Agama memberikan panduan agar umat muslim melakukan sahur dan buka puasa dilakukan oleh individu atau keluarga inti, tidak perlu sahur on the road maupun buka puasa bersama. Selain itu peringatan Nuzulul Qur’an dalam bentuk tablig dan Salat Idul Fitri di masjid atau lapangan ditiadakan. Hal ini dikuatkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dengan menegaskan bahwa pembatasan berkerumun bukan berarti membatasi ibadah bagi umat Muslim. Ibadah bisa tetap dijalankan tanpa berkerumun.

2. Rumah sebagai tempat ibadah

Di tengah pandemi COVID-19, umat Muslim diminta untuk menjalankan semua kegiatan ibadah dari rumah. Salat tarawih bisa dilakukan dari rumah dengan keluarga inti saja, pengajian yang biasanya digelar di masjid atau majelis taklim sebaiknya dilakukan secara online. MUI mengajak segenap umat Muslim agar menjadikan rumah sebagai pusat kegiatan Ibadah Ramadan bersama keluarga.

3. Ubah kebiasaan Ibadah

Selain beribadah dari rumah, umat Muslim juga diimbau untuk mengubah kebiasaan zakat dan bersedekah secara langsung. Zakat bisa disalurkan melalui lembaga-lembaga amil terpercaya secara online. MUI mengimbau zakat ataupun sedekah yang biasanya dipakai untuk membangun sarana dan prasarana masjid, dapat dialokasikan untuk penanganan COVID-19.  

 

Kebutuhan nutrisi dan hidrasi yang tepat diperlukan saat berpuasa. Hindari makanan tinggi gula, garam, dan lemak yang dapat menyebabkan tubuh terasa lemah. Beberapa hal yang perlu diingat untuk menjaga daya tahan tubuh saat berpuasa di tengah pandemi COVID-19.

1. Nutrisi

WHO dalam panduannya menjalankan puasa selama pandemi COVID-19 mengingatkan pentingnya menjaga kecukupan nutrisi dan hidrasi tubuh. Kawan PRIMA bisa membagi asupan gizi yang seimbang  ke dalam menu sahur dan berbuka. Dokter gizi Inge Permadhi memberikan contoh jika kebutuhan kalori orang dewasa sebanyak 2.000 kalori/hari, maka kebutuhan itu harus tercukupi saat sahur dan berbuka. Misalkan saat berbuka puasa 1.250 kalori, konsekuensinya menu sahur harus memenuhi 750 kalori. Rentang waktu antara sahur dan sarapan yang jauh biasanya membuat orang cenderung mengonsumsi apapun yang tersedia di hadapannya. Untuk memulai hari idealnya tidak dengan asupan asal kenyang. Susu dan roti isi bisa menjadi salah satu opsi menu sahur. Susu memberikan nutrisi lemak dan protein, sedangkan roti isi akan memberikan asupan karbohidrat bagi tubuh. Sedangkan untuk kebutuhan cairan bagi tubuh, pastikan minum yang cukup untuk hidrasi tubuh selama puasa. Untuk orang dewasa, usahakan minum minimal 8 gelas air per hari. Jumlah ini dapat dibagi saat sahur, berbuka dan makan malam. Untuk sahur misalnya sebanyak 2 gelas, kemudian 2 gelas saat berbuka, 2 gelas saat makan malam dan 2 gelas lagi jelang tidur.

2. Kebugaran Tubuh

Dokter Tan Shot Yen, mengingatkan pentingnya menjaga kebugaran tubuh selama puasa saat pandemi COVID-19. Meski berpuasa di tengah pandemi COVID-19, tubuh perlu bergerak, beraktivitas dan istirahat yang cukup. Untuk itu tetaplah berolahraga, aktif bergerak ataupun bekerja, serta tidur yang cukup dan berkualitas.

3. Berat Badan

Pola makan, istirahat dan aktivitas yang berubah atau tidak teratur biasanya berpengaruh pada berat badan seseorang. Kelebihan berat badan identik dengan penumpukan sel-sel lemak. Kegemukan akan mengakibatkan keluarnya sel-sel lemak, dan menjadi sinyal yang tidak baik karena bisa menurunkan daya tahan tubuh. Jaga agar berat badanmu tetap stabil ya Kawan PRIMA.

 

Nah Kawan PRIMA, itu tadi beberapa hal yang perlu diperhatikan saat berpuasa di tengah pandemi COVID-19. Mari kita jadikan Ibadah Ramadan sebagai momentum emas untuk mempercepat penanganan wabah COVID-19 dimulai dari diri sendiri. Stay safe & stay healthy.

 

Artikel Terkait:

Makanan Yang Tepat Saat Berpuasa

Tetap PRIMA saat Berpuasa

Tips Belanja Bahan Makanan Yang Aman Di Tengah Pandemi COVID-19               

Manajemen Stok Bahan Makanan Di Tengah Pandemi COVID-19

 

Referensi:

apps.who.int

kemenag.go.id

nasional.kompas.com

health.grid.id

www.cnnindonesia.com

berita lainnya

Sepanjang perjalanan bangsa ini, setidaknya tercatat 2 nama pahlawan ekonomi yang berhasil menjaga kestabilan ekonomi Indonesia saat diterpa krisis.... Selengkapnya >
Ada yang namanya utang produktif, dan juga utang konsumtif. Penasaran kan apa bedanya dari 2 jenis utang pribadi ini? Tanpa berlama-lama berikut penjelasan soal utang produktif dan utang konsumtif:... Selengkapnya >
Jaringan PRIMA menyiapkan tips untuk mempertahankan bisnis rintisan di tengah Pandemi. Berikut tips agar startup dapat survive ditengah pandemi:... Selengkapnya >