18 February 2026
Kawan PRIMA, pernah nggak sih kamu merasa sayang banget untuk berhenti dari sesuatu hanya karena sudah terlanjur keluar banyak biaya, waktu, atau tenaga? Misalnya sudah bayar mahal untuk ikut kelas tapi ternyata tidak cocok, atau terus mempertahankan investasi yang merugi karena merasa “sudah terlanjur banyak masuk”. Nah, kondisi seperti ini dalam dunia keuangan dikenal dengan istilah sunk cost fallacy.
Sunk cost fallacy adalah bias psikologis ketika seseorang tetap melanjutkan keputusan yang sebenarnya sudah tidak menguntungkan hanya karena merasa sayang terhadap biaya yang sudah dikeluarkan sebelumnya. Padahal secara logika, biaya yang sudah keluar tidak bisa kembali, dan seharusnya tidak lagi menjadi dasar dalam pengambilan keputusan ke depan.
Secara sederhana, sunk cost berarti biaya yang sudah terlanjur dikeluarkan dan tidak dapat dipulihkan. Fallacy berarti kekeliruan berpikir. Jadi, sunk cost fallacy dalam keuangan adalah kekeliruan saat kita membiarkan masa lalu mengendalikan keputusan finansial saat ini.
Contohnya, kamu membeli saham seharga Rp5 juta. Beberapa bulan kemudian nilainya turun drastis dan prospeknya tidak lagi bagus. Namun kamu menahan saham tersebut hanya karena merasa “belum balik modal”. Padahal keputusan yang lebih rasional adalah menilai potensi ke depan, bukan terpaku pada kerugian masa lalu.
Bias ini sering terjadi tanpa disadari dan bisa berdampak besar terhadap kesehatan finansial.
Sunk cost fallacy bisa membuat seseorang terus merugi lebih dalam. Alih-alih menghentikan kerugian, kita justru menambah pengeluaran dengan harapan bisa menutup biaya sebelumnya.
Dalam kehidupan sehari-hari, dampaknya bisa muncul dalam berbagai bentuk:
Secara emosional, sunk cost fallacy membuat kita sulit menerima kenyataan bahwa keputusan sebelumnya kurang tepat. Ego dan rasa penyesalan sering kali lebih dominan daripada logika.
Agar tidak terjebak dalam jebakan psikologis ini, ada beberapa langkah yang bisa Kawan PRIMA lakukan.
Jaringan PRIMA sebagai jaringan switching nasional mendukung kelancaran berbagai transaksi digital antarbank secara real time dan aman. Namun, di balik kemudahan sistem pembayaran yang terintegrasi, keputusan finansial tetap berada di tangan pengguna.
Artinya, kecanggihan teknologi perlu diimbangi dengan pola pikir yang sehat dalam mengelola keuangan. Jangan sampai kemudahan transaksi justru membuat kita semakin impulsif dan terjebak dalam sunk cost fallacy.
Baca: Jaga Privasi Data Anda dalam Data Privacy Day!
Kawan PRIMA, menerima bahwa suatu keputusan di masa lalu kurang tepat bukanlah kegagalan. Justru itu adalah bagian dari proses belajar dalam mengelola keuangan. Yang terpenting adalah bagaimana kita memperbaiki langkah ke depan.
Dengan memahami konsep sunk cost fallacy dalam keuangan, kamu bisa lebih objektif saat menghadapi kerugian, lebih tegas dalam mengambil keputusan, dan lebih bijak dalam mengelola anggaran maupun investasi.
Ingat, uang yang sudah keluar tidak bisa kembali. Tapi keputusan hari ini masih bisa menentukan kondisi finansialmu di masa depan. Yuk, jadi pribadi yang lebih rasional, cerdas, dan PRIMA dalam setiap keputusan keuangan.
Baca: Hotel vs Villa: Sebelum Pesan, Wajib Tahu 3 Tips Penting Ini