8 June 2026
Perkembangan teknologi digital membawa banyak kemudahan dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai aktivitas kini dapat dilakukan lebih cepat, mulai dari berkomunikasi, bertransaksi, bekerja, hingga mengakses hiburan. Namun di balik kemajuan tersebut, muncul pula tantangan baru yang perlu diwaspadai. Salah satunya adalah deepfake, yaitu teknologi manipulasi audio, gambar, atau video yang memanfaatkan kecerdasan buatan untuk membuat seseorang seolah-olah mengatakan atau melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah terjadi.
Deepfake kini semakin mudah dibuat dan kualitasnya semakin sulit dibedakan dari konten asli. Jika sebelumnya teknologi ini hanya dapat dibuat oleh pihak dengan kemampuan teknis tinggi, kini berbagai aplikasi dan perangkat berbasis AI memungkinkan manipulasi wajah dan suara dilakukan dengan lebih cepat. Hal ini menjadikan deepfake sebagai salah satu ancaman serius di ruang digital, terutama ketika digunakan untuk penipuan, penyebaran informasi palsu, pencemaran nama baik, hingga rekayasa sosial.
Dalam konteks keamanan digital, deepfake dapat dimanfaatkan pelaku kejahatan untuk membangun kepercayaan palsu. Misalnya, seseorang menerima panggilan video atau pesan suara yang tampak berasal dari atasan, rekan kerja, keluarga, partner bisnis, atau tokoh tertentu. Suara dan wajah yang terlihat meyakinkan dapat membuat korban lengah, lalu mengikuti instruksi seperti mentransfer dana, membagikan data pribadi, memberikan kode OTP, atau membuka tautan berbahaya. Di sinilah pentingnya kewaspadaan, karena tampilan yang terlihat nyata belum tentu benar.
Baca juga: Apa Itu Deepfake? Kenali Bahaya dan Cara Mendeteksinya
Salah satu modus yang perlu diwaspadai adalah video call dari seseorang yang dikenal, namun tiba-tiba meminta korban untuk segera melakukan transfer uang. Pelaku dapat menggunakan wajah dan suara yang menyerupai orang terdekat, pimpinan, rekan kerja, atau pihak yang dipercaya. Biasanya, permintaan tersebut disampaikan dengan nada mendesak, seolah-olah ada keadaan darurat yang harus segera ditangani.
Agar lebih waspada, berikut beberapa ciri-ciri modus penipuan menggunakan deepfake yang perlu diperhatikan:
Namun, karena teknologi deepfake terus berkembang, tanda-tanda tersebut tidak selalu mudah dikenali. Karena itu, jangan hanya mengandalkan tampilan visual atau suara saat menerima permintaan yang berkaitan dengan uang maupun data pribadi. Verifikasi tetap menjadi langkah utama untuk memastikan kebenaran informasi.
Baca juga: Waspada Modus Penipuan Digital yang Makin Canggih, Kamu Harus Lebih Cerdas
Langkah paling penting untuk menghindari modus ini adalah tidak langsung percaya pada permintaan yang disampaikan melalui video call, pesan suara, atau pesan singkat, terutama jika permintaan tersebut bersifat mendesak dan berkaitan dengan transfer dana. Sebelum mengambil keputusan, pastikan informasi yang diterima benar-benar berasal dari pihak yang tepat.
Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menghindari modus deepfake:
Perlindungan dari deepfake juga dimulai dari kebiasaan menjaga jejak digital pribadi. Foto, video, dan rekaman suara yang diunggah secara terbuka dapat dimanfaatkan oleh pihak tidak bertanggung jawab sebagai bahan pembuatan konten manipulatif. Karena itu, penting untuk lebih selektif dalam membagikan konten pribadi di media sosial, mengatur privasi akun, serta membatasi informasi yang dapat diakses publik.
Perusahaan, institusi, dan pelaku industri juga memiliki peran penting dalam membangun budaya keamanan digital. Edukasi rutin, prosedur verifikasi berlapis, serta kebijakan komunikasi resmi dapat membantu mengurangi risiko penipuan berbasis deepfake. Di lingkungan kerja, setiap permintaan yang tidak biasa, mendesak, atau melibatkan akses sensitif perlu diverifikasi sebelum ditindaklanjuti.
Pada akhirnya, menghadapi deepfake bukan hanya soal memahami teknologi, tetapi juga membangun kebiasaan digital yang lebih cermat. Di tengah derasnya arus informasi, kemampuan untuk mengenali, memeriksa, dan memverifikasi menjadi perlindungan penting bagi setiap individu. Dengan kewaspadaan bersama, masyarakat dapat tetap menikmati manfaat teknologi digital tanpa mudah terjebak dalam manipulasi yang merugikan.
Sumber: Bank Indonesia