Waspadai Latte Factor, Pemborosan Tidak Terlihat

5 October 2022

  • Share

Kawan PRIMA, apakah kamu cukup familiar dengan istilah latte factor? Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh penulis finansial sekaligus motivator asal Amerika Serikat, David Bach. Penggunaan kata “Latte” dalam istilah tersebut diasosiasikan dengan kebiasaan orang-orang yang “hobi” mengeluarkan uang secara rutin untuk membeli kopi kekinian. Menurut Bach, perilaku tersebut merupakan sebuah contoh pengeluaran kecil yang jika diakumulasi akan menjadi pengeluaran besar.

Apa Saja yang Menjadi Latte Factor?
Latte factor berkaitan erat dengan pengelolaan keuangan. Umumnya mereka yang terimbas latte factor, akan membelanjakan uang karena alasan terbiasa, alasan kenyamanan serta alasan emosional. Sebagai contoh, sebelum berangkat ke kantor, seorang pekerja menghabiskan total uang hingga Rp 396.000,- selama 22 hari kerja untuk membeli kopi kekinian. Dasar perhitungan tersebut diambil dari harga terendah kopi kekinian, yakni sekitar Rp 18.000,- per cup. Pada kondisi demikianlah, seseorang disebut berada dalam situasi latte factor.

Latte factor sebenarnya dapat diminimalisir, apabila orang yang bersangkutan bersedia membeli kopi bubuk dan menyeduhnya sendiri. Cara ini tentunya akan lebih hemat. Sisa uang yang dihasilkan dari efisiensi tersebut dapat dialokasikan untuk kebutuhan lain, seperti mengisi token listrik, melakukan top up pulsa maupun membeli bensin kendaraan.

Latte factor juga terjadi dari biaya penggunaan transportasi online serta konsumsi rokok seseorang. Sekilas kamu mungkin merasa biaya yang dikeluarkan untuk bepergian menggunakan jasa transportasi online dan membeli sebungkus rokok tidak seberapa. Namun coba kalkulasikan dalam periode seminggu, sebulan dan setahun, total nominalnya mungkin akan bisa membuat kamu tercengang.

 

Cara Mengatasi Latte Factor

Latte factor sering dialami oleh kalangan Milenial dan Gen-Z. Latte factor bisa dipicu dari kebiasaan seseorang melakukan window shopping alias bepergian ke pusat perbelanjaan tanpa niat membeli.  Meski tidak berniat membeli, namun seringkali seseorang akhirnya memutuskan untuk berbelanja barang yang kurang penting karena tergiur promo atau diskon. Bila terus dibiarkan, kondisi ini bisa berdampak pada penyakit compulsive buying disorder (CBD) atau gangguan belanja kompulsif.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk terhindar dari “jeratan” latte factor, diantaranya

 

1. Efisiensi

Kamu wajib berpikir dua kali saat ingin melakukan pembelian, apapun bentuknya. Perhitungkan kembali apakah pembelian yang kamu lakukan akan benar-benar menambah value diri atau tidak. Pahami apakah pembelian yang kamu lakukan merupakan suatu kebutuhan atau hanya keinginan semata. Jangan sampai justru uang yang kamu keluarkan untuk membeli barang yang kurang penting, justru menganggu keuangan kamu di masa yang akan datang.

 

2. Mulai Menabung dan Berinvestasi

Dengan membiasakan diri untuk menabung dan berinvestasi secara rutin, kebiasaan untuk melakukan pembelian bisa kamu direm. Usahakan menyisihkan uang untuk ditabung dan diinvestasikan di hari pertama gajian. Dengan demikian, kamu tidak akan memiliki kesempatan untuk tergoda jajan sembarangan.

 

3. Hidup Sehat

Menerapkan pola hidup sehat dapat mengatasi kebiasaan latte factor. Salah satunya dengan membawa bekal makanan dan minuman sendiri saat ke sekolah maupun kantor. Selain itu, untuk menekan biaya penggunaan transportasi online, kamu bisa berjalan kaki atau bersepeda apabila jarak rumah dengan kantor maupun sekolah kamu tidak terlalu jauh.

 

Referensi:

Koinworks.com

Kompas.com

Grid.id

berita lainnya

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa bergosip sebenarnya dapat memiliki manfaat signifikan terutama bagi psikologis dan sosial.... Selengkapnya >
Fitur tarik tunai tanpa kartu atau Cardless Cash Withdrawal (CCW) yang dapat dilakukan oleh nasabah melalui aplikasi mobile banking mereka.... Selengkapnya >