Siasati Biaya Pendidikan Anak yang Mahal

10 September 2021

  • Share

Siasati Biaya Pendidikan Anak yang Mahal

Kawan PRIMA, biaya pendidikan anak setiap tahunnya selalu meningkat. Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut kenaikan rata-rata biaya pendidikan di Indonesia mencapai 10-15 persen per tahun. Perlu dicatat, biaya yang dimaksud hanya sebatas uang pangkal, belum termasuk uang SPP, uang buku, perlengkapan sekolah anak, serta biaya tugas-tugas sekolah. Sebagai orang tua, kamu perlu merencanakan pendidikan anak hingga 20 tahun kedepan, sejak PAUD, TK, SD, SMP,SMA hingga S1. Dikutip dari cnbcindonesia.com, untuk kisaran ekonomi menengah, total rata-rata uang muka sekolah swasta dari bangku TK hingga perguruan tinggi mencapai Rp 187,5 juta di tahun 2020 lalu.

Biaya Sekolah anak

Level

Uang Muka

Iuran Lainnya

(asumsi 10% dari uang muka)

Sub Total

PAUD

Rp5.000.000

Rp500.000

Rp5.500.000

TK

Rp10.000.000

Rp1.000.000

Rp11.000.000

SD

Rp30.000.000

Rp3.000.000

Rp33.000.000

SMP

Rp35.000.000

Rp3.500.000

Rp38.500.000

SMA

Rp40.000.000

Rp4.000.000

Rp44.500.000

KULIAH

Rp50.000.000

Rp5.000.000

Rp55.000.000

Total

Rp187.500.000

Biaya Sekolah Anak 2020 (CNBC Indonesia)

 

Dengan estimasi kenaikan biaya pendidikan 10-15 persen per tahunnya, kamu bisa mengkalkulasi total dana yang dibutuhkan untuk menyekolahkan satu orang anak hingga ke tingkat perguruan tinggi.

Sebagian dari Kawan PRIMA mungkin belum memikirkan soal biaya pendidikan anak karena saat ini masih berstatus single atau masih fokus dengan karier. Namun, tidak ada salahnya mulai memperhatikan hal tersebut sejak dini, untuk mempersiapkan finansial yang lebih matang di masa depan.

Agar perencanaan dana pendidikan anak dapat dilakukan dengan tepat, terapkan 5 langkah berikut ini:

 

1. Menentukan Jenis Sekolah yang Diinginkan

Mencari informasi sedetail mungkin terkait keunggulan dan kekurangan sekolah negeri, swasta, internasional maupun home schooling merupakan langkah awal yang harus dilakukan. Kamu dapat mencari tahu tentang sistem pendidikan atau kurikulum yang digunakan. Setelah menentukan jenis sekolah yang akan dipilih, kamu dapat mencari beberapa alternatif institusinya. Baik dari sisi akreditasi sekolah, sarana prasara serta jarak tempuh sekolah dengan tempat tinggal kamu.

 

2. Riset Perkiraan Biayanya

Informasi lain yang wajib diketahui adalah besaran uang pangkal, uang SPP, uang buku, seragam dan biaya lainnya seperti ongkos transportasi maupun biaya ekstrakurikuler. Kemudian bandingkanlah jumlah dana yang kamu keluarkan dengan sarana dan prasarana yang akan diperoleh anak. Dari situ kamu bisa menentukan pilihan. Namun ingat, biaya pendidikan cendrung meningkat 10-15 persen setiap tahunnya.

 

3. Evaluasi Keuangan

Setelah mengetahui kisaran dana yang akan kamu keluarkan untuk menyekolahkan anak hingga perguruan tinggi, kamu harus mengevaluasi kemampuan keuanganmu. Tentukan nominal yang dapat kamu sisihkan dari gaji per bulan. Pastikan porsinya pas dan tidak menganggu pengeluaran pokok lain seperti sewa rumah, bayar cicilan utang, dana darurat dan investasi.

 

4. Pilih Tabungan dan Asuransi Pendidikan

Untuk mengumpulkan dana secara maksimal, buatlah tabungan khusus untuk pendidikan di bank. Sisihkan sebagian uang yang kamu peroleh secara disiplin dan dana tersebut tidak boleh diganggu gugat. Kamu juga bisa melakukan pekerjaan sampingan untuk menabung biaya pendidikan.

 

5. Investasi

Investasi bisa menjadi solusi untuk mengumpulkan dana pendidikan. Ada berbagai instrumen investasi yang dapat kamu pilih, seperti investasi di reksadana, investasi saham di pasar modal, deposito, dan sebagainya. Apalagi imbal hasil investasi biasanya lebih tinggi dibanding suku bunga tabungan. Namun sebelum berinvestasi, pastikan kamu telah memahami dan mempelajari instrumen investasi apa yang cocok untuk kamu.

 

Referensi :

Cnbcindonesia.com

Cermati.com

Theasianparent.com

berita lainnya

enyakit berbahaya tidak hanya disebabkan oleh penyakit menular saja. Ternyata ada beberapa penyakit tidak menular yang justru lebih mematikan di dunia... Selengkapnya >
Dalam peristiwa sejarah 28 Oktober 1928 sebenarnya tidak ada istilah Sumpah Pemuda. Adapun hasil Kongres Pemuda II pada waktu itu adalah “Ikrar Pemuda”. Barulah di tahun 1930-an, kata tersebut diubah oleh Moh Yamin menjadi Sumpah Pemuda.... Selengkapnya >