30 October 2025
Perubahan besar tengah melanda dunia, bukan hanya dalam bidang ekonomi, tetapi juga dalam cara manusia berpikir dan beradaptasi terhadap ketidakpastian. Dalam sesi Keynote Closing Speech bertajuk “Peran Sistem Pembayaran Digital bagi Pertumbuhan Ekonomi dan UMKM Indonesia” di Prima Executive Gathering 2025, Prof. Rhenald Kasali, Guru Besar FEB Universitas Indonesia dan Founder Rumah Perubahan, mengajak pelaku industri keuangan untuk berani menghadapi disrupsi digital dengan semangat kolaborasi dan inovasi.
Rhenald menyebut bahwa dunia kini telah bergeser dari era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity) menuju era BANI (Brittle, Anxious, Non-linear, Incomprehensible). Dalam era ini, perubahan bisa datang tanpa peringatan, bahkan mengguncang institusi yang selama ini dianggap paling kuat dan mapan. “Kita hidup di masa di mana yang kuat bisa rapuh, yang pasti bisa hilang, dan yang mapan bisa runtuh hanya karena satu celah kecil,” ujarnya. Ia mencontohkan kasus pencurian di Louvre Museum sebagai ilustrasi bahwa ilusi kekuatan sering kali membuat organisasi lengah terhadap ancaman baru.
Baca: Resiliensi Sistem Pembayaran dan Kolaborasi Inovasi - Fokus Utama Prima Executive Gathering 2025
Dalam konteks sistem pembayaran digital, Prof. Rhenald menegaskan pentingnya kesiapan menghadapi ancaman baru yang muncul seiring kemajuan teknologi seperti quantum computing dan kecerdasan buatan (artificial intelligence). Menurutnya, ancaman keamanan siber dan fraud yang semakin kompleks menuntut sektor keuangan untuk memperkuat kolaborasi lintas institusi. Ia juga menyoroti perlunya pembentukan task force keamanan digital, peningkatan literasi masyarakat, serta peran regulator yang tidak hanya mengawasi, tetapi juga berfungsi sebagai enabler inovasi. “Kalau kita tidak cepat berbicara dan bertindak, industri akan terlambat beradaptasi dan bisa sakit perlahan,” tegasnya.
Lebih lanjut, Rhenald mengamati perubahan perilaku generasi muda di era cashless society. Dengan kemudahan bertransaksi digital, banyak yang tak lagi merasakan pain of paying, sensasi psikologis saat mengeluarkan uang yang dulu membuat seseorang lebih bijak dalam berbelanja. “Mereka tidak membeli rumah, tapi membeli pengalaman. Ini harus dibaca sebagai sinyal perubahan perilaku ekonomi yang fundamental,” ujarnya. Pandangan ini menjadi refleksi penting bagi sektor keuangan agar tidak hanya fokus pada efisiensi transaksi, tetapi juga menjaga kesadaran nilai dan keseimbangan sosial dalam transformasi digital.
Sebagai penutup, Prof. Rhenald memperkenalkan konsep Fluke Mindset, cara berpikir yang mendorong individu maupun organisasi untuk melihat peluang besar dari hal-hal kecil yang tak terduga. Ia meyakini bahwa keberuntungan sering datang pada mereka yang mau bergerak dan berkolaborasi. “Kalau kita ingin menjemput keberuntungan di masa depan, kita harus terbuka, adaptif, dan berani membangun kolaborasi. Karena dalam dunia yang tak pasti, hanya mereka yang mau bergerak yang akan menemukan arah,” katanya.
Dengan gaya bercerita yang inspiratif dan membumi, Prof. Rhenald menutup Prima Executive Gathering 2025 dengan pesan kuat bahwa di tengah badai ketidakpastian, kolaborasi, inovasi, dan keberanian adalah kunci untuk menjaga pertumbuhan ekonomi dan memperkuat peran sistem pembayaran digital dalam mendorong kemajuan UMKM Indonesia.