Gita Wirjawan Dorong Indonesia Perkuat Talenta dan Kapasitas Energi di Tengah Perubahan Global

19 August 2026

  • Share

Gita Wirjawan Dorong Indonesia Perkuat Talenta dan Kapasitas Energi di Tengah Perubahan Global

Dunia sedang bergerak dari tatanan unipolar menuju multipolar. Bagi Indonesia, perubahan tersebut tidak semata menghadirkan ketidakpastian, tetapi juga membuka ruang untuk memperbesar otonomi strategis. Gita Wirjawan melihat jawabannya terletak pada kemampuan Indonesia mengubah ketidakpastian menjadi risiko yang dapat dihitung, memperkuat kualitas talenta, menarik modal, serta membangun kapasitas energi yang cukup untuk naik dalam rantai nilai ekonomi global.

Dalam paparannya di hadapan peserta Prima Executive Gathering 2026, Gita Wirjawan, mengajak audiens melihat ekonomi Indonesia dari bentang yang jauh lebih luas. Ia tidak memulai dari angka pertumbuhan atau inflasi, melainkan dari perubahan struktur geopolitik dunia dan posisi Asia Tenggara di dalamnya.

Menurut Gita, Asia Tenggara memiliki modal historis yang penting: masyarakat yang sangat beragam, skala populasi sekitar 700 juta jiwa, aktivitas ekonomi yang besar, serta pengalaman panjang hidup dalam relatif stabilitas. Namun ia melihat kawasan ini masih memiliki kelemahan mendasar, yaitu kemampuan untuk membangun, mendokumentasikan, dan menyampaikan narasinya sendiri.

Persoalan itu menjadi penting karena ketika peta kekuatan dunia berubah, negara atau kawasan tidak cukup hanya memiliki sumber daya. Mereka juga harus mampu menjelaskan kekuatan, risiko, dan prospeknya kepada dunia.

Gita melihat era ketika satu kekuatan besar dapat mendominasi tatanan global semakin sulit dipertahankan. Munculnya negara-negara yang semakin besar secara ekonomi dan politik telah mendorong dunia menuju multipolaritas.

Konsekuensinya, proses multilateralisme menjadi lebih rumit. Negara-negara yang sebelumnya relatif kecil kini memiliki kapasitas lebih besar untuk menuntut perubahan terhadap aturan yang dibentuk ketika posisi mereka belum sekuat sekarang. Dalam kondisi tersebut, Gita memperkirakan hubungan bilateral dan plurilateral akan semakin penting.

Di tengah perubahan itu, kontestasi Amerika Serikat dan Tiongkok menjadi salah satu kekuatan pembentuk arah dunia. Namun bagi Asia Tenggara, kompetisi tersebut tidak harus semata dipandang sebagai ancaman.

Justru karena berada di antara berbagai kekuatan besar, Asia Tenggara memiliki kesempatan untuk membangun otonomi strategis yang lebih besar. Gita menyebut kemampuan yang diperlukan adalah kecakapan untuk bergerak dan memanfaatkan keunggulan dari berbagai pusat kekuatan tanpa harus kehilangan kepentingan nasional sendiri.

Dalam ilustrasinya, Indonesia dapat memanfaatkan perkembangan teknologi dari Tiongkok sekaligus mengakses kedalaman modal dan likuiditas yang selama puluhan tahun terkonsentrasi di dunia Barat. Tetapi peluang tersebut hanya dapat dimanfaatkan apabila Indonesia mempunyai kapasitas domestik yang memadai.

Gita menekankan pentingnya kemampuan sebuah negara mengubah ketidakpastian menjadi risiko yang dapat diukur. Bagi investor, ketidakpastian sulit dijadikan dasar keputusan karena tidak memiliki ukuran yang jelas, sedangkan risiko dapat diberi probabilitas, dihitung dampaknya, dan dimasukkan ke dalam perhitungan investasi. Karena itu, kualitas institusi, kepastian hukum, kemampuan numerik, serta infrastruktur menjadi sangat penting dalam menarik modal. 

Fondasi berikutnya adalah human capital. Gita membandingkan berbagai strategi pengembangan talenta, mulai dari brain train di Jepang, brain gain di Singapura dan Australia, brain circulation di Tiongkok, hingga brain linkage di India. Indonesia, menurutnya, perlu mengombinasikan pendekatan tersebut dengan memperkuat talenta domestik, membuka ruang bagi talenta global, serta mengirim lebih banyak generasi muda untuk belajar di institusi terbaik dunia. Ia memberi penekanan khusus pada pendidikan STEM (science, technology, engineering, and mathematics), karena kemampuan berhitung, menganalisis, dan mengkuantifikasi persoalan sangat menentukan kapasitas sebuah negara dalam mengelola risiko, membangun industri, menarik investasi, dan naik dalam rantai nilai.

Dengan demikian, investasi pendidikan bukan semata agenda sosial, tetapi juga menjadi bagian penting dari strategi industrialisasi dan penguatan posisi Indonesia dalam ekonomi global. 

“Jika Indonesia mampu memperkuat pendidikan dan STEM, menegakkan kepastian hukum, menarik serta mengelola modal, dan secara agresif membangun kapasitas energi, ketidakpastian global dapat berubah menjadi peluang untuk memperbesar otonomi strategis Indonesia.” ujarnya optimis.

Baca juga: BI Dorong Kolaborasi Erat Antar Pelaku Industri Sistem Pembayaran

Gita kemudian menghubungkan seluruh kerangka tersebut dengan perkembangan artificial intelligence. Menurutnya, kualitas hasil AI sangat dipengaruhi oleh kualitas kognitif penggunanya. Semakin berkembang AI dari model generatif menuju agentic AI, semakin besar kebutuhan terhadap manusia yang mampu memberikan tujuan, parameter, dan indikator keberhasilan yang tepat.

AI bukan pengganti kapasitas berpikir. Justru semakin tinggi kemampuan teknologi, semakin penting kualitas manusia yang mengarahkannya. 

Dalam pandangannya, inovasi AI berpotensi menghasilkan lapangan kerja dalam jumlah besar, mendorong formalisasi ekonomi, dan mengangkat Indonesia ke tingkat produktivitas yang lebih tinggi.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilannya bukan sekadar pertumbuhan ekonomi atau posisi dalam peringkat global. Bagi Gita, kemajuan tersebut harus berujung pada kemampuan negara mendistribusikan public goods secara lebih merata: pendidikan, kesehatan, kesejahteraan, pengetahuan, serta nilai sosial kepada masyarakat di seluruh Indonesia.

Di situlah kekuatan ekonomi memperoleh makna yang lebih besar: bukan hanya membuat Indonesia tumbuh, tetapi memastikan Indonesia memiliki kemampuan menentukan arah masa depannya sendiri.

Baca juga: Prima Executive Gathering 2026 Sukses Digelar di Bali,  Industri Sistem Pembayaran Perkuat Kolaborasi untuk  Pertumbuhan Ekonomi 

berita lainnya

Bayar IPL Sinar Mas Land kini lebih praktis melalui Blibli. Cek tagihan, pilih properti, dan selesaikan pembayaran secara online agar kewajiban hunian tetap terkelola tepat waktu.... Selengkapnya >
Tingkatkan kenyamanan pelanggan dengan QRIS BCA melalui EDC BCA. Merchant dapat menerima pembayaran digital lebih praktis, mempercepat transaksi, dan mendukung perkembangan bisnis.... Selengkapnya >
Permudah penerimaan pembayaran digital dengan QRIS Acquirer OTTO Cash. Satu QRIS dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan bisnis, membantu transaksi pelanggan jadi lebih praktis dan #LebihSimple.... Selengkapnya >