Menghadapi Revolusi Quantum: Siapkah Kita Beradaptasi?

29 October 2025

  • Share

Teknologi terus berevolusi dengan kecepatan luar biasa. Apa yang kita gunakan hari ini kemungkinan besar akan menjadi usang dalam beberapa tahun ke depan. Filosofi inilah yang diyakini oleh Neil McEvoy, Vice President, Special Projects, FIME yang menilai masa depan komputasi akan bergeser dari sistem berbasis fisika klasik menuju era quantum computers.

Berbeda dengan komputer konvensional, komputer kuantum menggunakan qubit, yang bisa merepresentasikan beberapa keadaan secara bersamaan melalui prinsip superposisi, entanglement, dan interferensi. Kombinasi ketiganya memberikan kekuatan komputasi eksponensial kemampuan yang jauh melampaui komputer klasik.

Dalam waktu dekat, peta jalan teknologi menunjukkan langkah besar. Tahun 2029, sistem Starling diproyeksikan mampu menjalankan 100 juta quantum gates dengan 200 logical qubits. Empat tahun kemudian, Blue Jay direncanakan mencapai 1 miliar quantum gates dan 2.000 logical qubits. Dengan kapasitas sebesar itu, algoritma RSA-2048 yang kini menjadi standar keamanan dunia diprediksi bisa ditembus pada awal 2030-an.

Namun McEvoy menegaskan bahwa untuk saat ini, quantum computers perlu berada dalam fasilitas spesialis yang dikelola oleh teknisi andal,” ujarnya dalam Prima Executive Gathering 2025 di The Mulia Resort, Bali, Kamis, 23 Oktober 2025.

Perkembangan ini membawa implikasi besar pada keamanan digital. Quantum computing berpotensi mengguncang sistem enkripsi global seperti RSA dan ECC. Jika teknologi ini matang, kunci enkripsi yang selama ini dianggap aman bisa diretas hanya dalam hitungan jam atau hari. Risiko regulasi, reputasi, hingga stabilitas sistem keuangan pun bisa muncul bila organisasi tidak siap.

Inilah alasan munculnya konsep Post-Quantum Cryptography (PQC), yakni sistem keamanan baru yang dirancang untuk tahan terhadap serangan kuantum. “Kita tidak bisa menunggu hingga ancaman itu datang. Transisi menuju PQC harus dimulai sekarang,” kata McEvoy.

Konsultan teknologi seperti Consult Hyperion telah menawarkan pendekatan Quantum Readiness rangkaian langkah sistematis agar organisasi siap menghadapi era ini. Prosesnya mencakup empat tahap: Crypto Services Audit, Structured Risk Analysis, Literature & Guidance Review, dan Amelioration Planning.

Program ini dirancang bertahap: tahun pertama untuk membangun quantum-safe framework dalam 6–8 bulan, kemudian evaluasi tahunan berdurasi 2–3 bulan untuk memperbarui kesiapan. Melibatkan berbagai pemangku kepentingan dari tim internal, bank anggota, hingga regulator model ini membantu organisasi memahami lanskap kripto mereka secara menyeluruh.

Hasilnya adalah ketahanan siber yang proaktif, peningkatan kepercayaan regulator, dan posisi strategis dalam ekosistem keuangan digital.

“Ini bukan tentang menakuti masa depan, tapi tentang menyiapkan fondasi agar kita tetap aman di dalamnya,” tutup McEvoy.

berita lainnya

Belanja cemilan Lebaran kini lebih praktis dengan Debit Bank Woori Saudara (BWS). Nikmati transaksi cepat, aman, dan nyaman berkat dukungan Jaringan PRIMA.... Selengkapnya >
Kawan PRIMA, di era transaksi digital yang semakin berkembang, ancaman kejahatan siber juga ikut meningkat. Salah satu modus yang paling sering terjadi adalah social engineering atau rekayasa sosial, yaitu teknik manipulasi psikologis yang digunakan pelaku kejahatan untuk mendapatkan informasi sensitif dari korban. Mulai dari data pribadi, kode OTP, hingga akses ke rekening perbankan.... Selengkapnya >
Kolaborasi PT Rintis Sejahtera dan Pegadaian melalui PRIMA Talkshow mendorong literasi investasi emas digital serta kemudahan transaksi dalam ekosistem Jaringan PRIMA.... Selengkapnya >