Negara-Negara yang “Bangkrut” Karena Utang

16 November 2021

  • Share

Kawan PRIMA, alasan suatu negara berutang salah satunya disebabkan karena lebih tingginya belanja negara dibanding pendapatan yang diperoleh. Dalam beberapa contoh kasus, suatu negara terpaksa berutang untuk menghindari opportunity loss. Artinya, ada kebutuhan belanja yang tidak bisa ditunda, misalnya penyediaan fasilitas kesehatan dan ketahahan pangan seperti di masa pandemi Covid-19 ini. Jika belanja tersebut ditunda justru bisa mengakibatkan kerugian yang lebih besar di masa mendatang.

Indikator yang digunakan untuk menilai kesehatan ekonomi dan tingkat utang suatu negara adalah dengan melihat rasio utang terhadap PDB (Produk Domestik Bruto). Bila nilai rasio utang lebih tinggi daripada PDB, maka negara tersebut berisiko gagal bayar (default).

Berikut adalah sejumlah negara yang pernah dinyatakan “bangkrut” karena gagal membayar utang (default).

 

1. Yunani

Di tahun 2015 lalu, Yunani sempat dinyatakan “bangkrut”. Penyebabnya karena gagal membayar utang dengan total jumlah mencapai US$360 miliar atau Rp 5.184 triliun. Rasio utang pemerintah Yunani terhadap PDB diketahui mencapai 155,3%. Angka ini jelas sangatlah tinggi. Dengan kondisi tersebut, jumlah tunawisma di Yunani pada waktu itu mengalami kenaikan hingga 40 persen. Selain itu, jumlah pengangguran juga meningkat dari 10,6 persen pada 2004 menjadi 26,5 persen pada 2014.

 

2. Argentina

Sebagian orang mungkin tidak menyangka bahwa negara kelahiran Lionel Messi ini mengalami “kebangkrutan”. Sejak merdeka dari jajahan Spanyol pada 1816, Argentina tercatat sudah sembilan kali default. Di tahun 2001, Argentina dinyatakan “bangkrut” karena gagal membayar utang negara sebesar US$ 100 miliar. Di tahun 2014, Argentina juga dinyatakan “bangkrut” karena gagal membayar utang lebih dari US$ 1,3 miliar kepada kreditur. Negeri Tango ini juga mengalami default pada Mei tahun lalu setelah gagal membayar kupon obligasi sekira US$ 500 juta.

Terakhir, tahun ini Argentina menyatakan tidak bisa membayar utang ke IMF sebesar US$45 miliar atau Rp 648 triliun. Pemerintah Argentina mengaku tidak memiliki dana untuk membayar utang tersebut. Wah sepertinya bakal ada yang gagal bayar lagi nih.

 

3. Zimbabwe

Tahun 2008 menjadi tahun yang berat bagi Zimbabwe. Di tahun tersebut negara ini mengalami krisis ekonomi. Zimbabwe memiliki utang hingga US$4,5 miliar atau Rp 64,8 triliun, disusul dengan melonjaknya tingkat pengangguran mencapai 80 persen. Zimbabwe juga mengalami hiperinflasi. Tingkat inflasi di Zimbabwe waktu itu mencapai angka hingga 11,250 juta persen. Akibatnya, harga barang-barang melonjak drastis, sehingga tidak bisa dijangkau masyarakat. Untuk mengatasi perekonomian yang semakin terpuruk, pemerintah Zimbabwe melakukan langkah pemangkasan nilai uang. Uang senilai 10 miliar dolar Zimbabwe kemudian dipotong menjadi hanya 1 dolar Zimbabwe. Kondisi ini membuat uang menjadi tidak lagi berarti bagi masyarakat. Mereka lebih memilih sistem barter dalam membeli barang.

 

4. Venezuela

Venezuela merupakan negara penghasil minyak yang pernah meraup banyak keuntungan saat harganya tinggi. Namun saat harga minyak turun negara ini kehilangan pemasukan hingga tidak mampu membayar utang. Venezuela pernah mengalami krisis ekonomi di tahun 2017.  Pada saat itu, Presiden Venezuela Nicolas Maduro mengatakan pemerintahannya tidak bisa membayar seluruh utang. Hingga saat ini, Venezuela masih mengalami kesulitan. Utang Venezuela saat ini mencapai US$ 150 miliar atau sekitar Rp 2.025 triliun. Dari jumlah tersebut, sebesar US$ 45 miliar adalah utang publik, lalu US$ 45 miliar lainnya merupakan utang milik perusahaan minyak BUMN Venezuela, Petróleos de Venezuela (PDVSA) sebesar US$ 23 miliar adalah utang dari China, dan US$ 8 miliar adalah utang dari Rusia.

 

5. Ekuador

Di tahun 2008 lalu, Ekuador memiliki utang mencapai US$10 miliar atau Rp144 triliun. Namun pemerintah Ekuador sengaja tidak mau memenuhi kewajibannya karena mengklaim utang tersebut disebabkan karena korupsi di pemerintahan sebelumnya.

Ekonomi Ekuador mulai anjlok ketika harga minyak jatuh di tahun 2014 lalu. Dengan anjloknya harga minyak, penerimaan Ekuador menjadi berkurang dan menyebabkan defisit fiskal. Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah Ekuador mulai mencari pinjaman ke sana-sini . Sejak 2014-2017 utang Ekuador naik signifikan hingga melebihi batas aman 40% dari total PDB.

Referensi:

Detik.com

Kompas.com

CnnIndonesia.com

Cnbcindonesia.com

berita lainnya

perfeksionis merupakan sifat atau karakter seseorang yang menuntut semua pekerjaan berjalan sempurna tanpa celah... Selengkapnya >
Organisasi kesehatan dunia (WHO) beberapa waktu lalu menetapkan varian ini sebagai Varian of Concern (VoC). Penetapan status ini diberikan karena varian Omicron dianggap lebih ganas dan menular 500 persen lebih cepat dibanding varian Delta.... Selengkapnya >
Apakah kamu tahu asal usul dari Nasi Goreng? Jika belum, kali ini kita akan bahas sejarah dan sejumlah fakta menarik mengenai Nasi Goreng... Selengkapnya >